Breaking News
Loading...
Sunday, March 13, 2011



Berbicara tentang Indonesia, tentu tidak terlepas dari kekayaan alam yang dimilikinya dari sabang sampai merauke. Tidak hanya kaya akan alam, tetapi juga kaya akan adat-istiadat, ras, agama, dan kebudayaan. Selain itu, Indonesia juga kaya akan jumlah penduduk yaitu 234,2 juta jiwa dan menjadikan Indonesia sebagai Negara keempat yang padat penduduknya.

Kini kekayaan Indonesia semakin bertambah seperti kekayaan akan bencana, kekayaan akan masyarakat miskin, kekayaan akan masalah, hingga kekayaan akan koruptor. Ketika ditanya mengapa kekayaan-kekayaan yang tidak diinginkan justru yang terjadi. Maka mahasiswa dengan cerdas menjawab dan mengkritik betapa buruknya pemimpin bangsa ini sehingga kekayaan-kekayaan yang tidak diinginkan semakin melimpah.

Ketika kita mengkritik betapa buruknya pemimpin bangsa ini, lalu kita ditanya apa yang sudah kita berikan dan lakukan untuk bangsa ini. Negara kita sudah memiliki banyak kritikus dan yang rajin muncul di layar kaca dan di back stage. Jadi yang dibutuhkan bukan memperbanyak kritikus, tetapi yang dibutuhkan adalah pemimpin. Suatu saat kita akan menggantikan posisi para pemimpin bangsa ini. Sudahkah kita mempersiapkan diri? Atau jangan-jangan kita hanya bertukar posisi, dari pengkritik menjadi yang dikritik karena tidak ada perubahan?

Kita selain sebagai mahasiswa, juga sebagai generasi muda yang menjadi harapan bangsa. Kita akan menerima tongkat estafet yang akan diberikan oleh para pemimpin terdahulu bangsa ini. Untuk itu, sejak dini kita harus menumbuhkan dan mengambangkan karakter kepemimpinan kita sebagai bekal membangun bangsa Indonesia menjadi lebih baik lagi.

Kondisi Kepemimpinan di Indonesia

Kepemimpinan adalah pengaruh antar pribadi, dalam situasi tertentu dan langsung melalui proses komunikasi untuk mencapai satu atau beberapa tujuan tertentu (Tannabaum, Weschler dan Nassarik, 1961). Sedangkan menurut Rauch dan Behling (1984) kepemimpinan adalah suatu proses yang mempengaruhi aktivitas kelompok yang diatur untuk mencapai tujuan bersama.

Kepemimpinan yang ada di Indonesia mengalami krisis yang berkepanjangan. Indonesia sudah 65 tahun merdeka dan bergonta-ganti pemimpin dengan segala tipe. Tetapi justru masalah yang dihadapi bangsa ini semakin berat dan bertambah. Era Orde Lama, Orde Baru, reformasi semua telah dilewati dan hanya berjalan ditempat atau bahkan mengalami kemunduran.

Menurut Siswo Dwi Martanto, banyaknya permasalahan kepemimpinan dan permasalahan bangsa yang tidak kunjung henti, menyebabkan rakyat tidak lagi percaya dengan kepemimpinan di Indonesia saat ini. Rakyat tidak butuh pemimpin yang pintar dan piawai berpidato, berpendidikan tinggi sampai S3, berpangkat militer tinggi hingga Jenderal tapi kerjanya hanya menipu dan memperdayakan rakyat. Tetapi rakyat butuh pemimpin yang mendengar tangisan pilu nasibnya dan mengulurkan tangannya untuk berdiri tegak bersama-sama dalam mengatasi masalah dengan asas kejujuran dan kepercayaan serta kerendahan dan kesederhanaan. Rakyat butuh pemimpin yang memikirkan masa depan anak-anak bangsa. Rakyat butuh pemimpin yang berani mengambil kebijakan untuk mengkounter harga-harga bahan pokok dan menghilangkan kebijakan pengendalian harga pada kelompok tertentu, sehingga harga kebutuhan pokok dapat terjangkau hingga dapat makan nasi putih yang hangat dengan sekerat tempe sudah cukup bagi mereka.

Masalah demi masalah yang dihadapi bangsa ini menstimulus otak kita untuk mengeluarkan anekdot atau guyonan dari berbagai hal. Penulis pernah membaca sebuah artikel di internet mengenai karakteristik kepemimpinan di Indonesia. Artikel tersebut dengan terbuka dan ‘blak-blak-an’ menyampaikan anekdot dan guyonan.

Sebut saja alm. Gusdur yang sering mengeluarkan guyonan atau anekdot dari kata ‘gila’ untuk para pemimpin negeri. Seperti Soekarno yang dibilang ‘gila’ wanita, Soeharto ‘gila’ harta, B.J Habibi ‘gila’ ilmu, sedangkan untuk diri sendiri gusdur mengatakan bahwa ia dipilih oleh orang-orang ‘gila’.

Ada juga anekdot atau guyonan lain tentang para pemimpin bangsa ini, dimana mereka (pemimpin negara) itu memiliki karakter kuat. Jika Soekarno disebut “Orator”, Soeharto seorang “Diktator”, B.J Habibi disebut “Teknologikator”, Gusdur adalah “Pluralisator”, Megawati tetap “Diemikator”, dan SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) disebut sebagai “Curhator.”

Melihat situasi yang bisa dikatakan genting ini, maka diperlukan dan dinantikan kelahiran sosok pemimpin yang dapat memperbaiki bangsa ini dari kekayaan-kekayaan yang tidak diharapkan. Proses melahirkan kepemimpinan yang ada harus diperbaharui, karena yang ada sekarang hanya menghasilkan pemimpin yang penuh dengan hutang politik dan balas budi kepada orang dan kelompok tertentu. Cara berpikir dan cara mengelola negara ala Soeharto harus segera diakhiri. Soeharto dulu berperilaku seperti raja Jawa yang melibatkan seluruh wilayah negara sebagi kerajaannya dan setiap provinsi bukan saja harus membayar upeti ke pemerintah pusat, tetapi juga harus tunduk dan taat kepada kehendak dan otoritas sentral. Akibat manajemen Soeharto itu, kini kita harus memikul akibat yang membawa rawan perpecahan (Kazhim dan Alfian Hamzah, 1999:83).

Kepemimpinan Generasi Harapan Bangsa

Tidak salah jika disebut bahwa generasi muda adalah generasi harapan bangsa. Pergerakan yang terjadi dalam sejarah Indonesia menunjukkan bahwa para pemuda yang menjadi tumpuan dan harapan bangsa. Banyak perubahan penting yang terjadi di Indonesia bahkan di dunia dipicu oleh kiprah para pemuda. Kelahiran Budi Utomo (1908), Sumpah Pemuda (1928), Revolusi Kemerdekaan (1945) serta Gerakan Reformasi (1998) merupakan sebuah bukti sejarah akan peran pemuda dalam menentukan arah kehidupan kita berbangsa dan bemegara.

Di negara manapun, sosok para pemuda selalu menjadi perhatian yang khusus oleh banyak kalangan. Sebab di tubuh para pemuda inilah segenap tumpuan masa depan bangsa dipertaruhkan. Orang bijak sering mengatakan, masa depan bangsa yang baik adalah masa depan yang memiliki kaum muda yang unggul, dan kompetitif.

Maka di tengah krisis kebangsaan yang kita hadapi saat ini, kerinduan tampilnya kepemimpinan kaum muda menjadi harapan banyak kalangan. Apalagi banyak catatan sejarah yang telah menunjukkan keberhasilan kepemimpinan kaum muda tersebut. Saat sekarang saja misalnya, munculnya sosok Mahmoud Ahmadinejad sebagai presiden Iran, Hugo Cavez sebagai presiden Venezuela, Evo Morales sebagai Presiden Bolivia, dan munculnya Barac Obama sebagai presiden Amerika Serikat yang merepresentasikan kepemimpinan kaum muda. Apalagi ketika para pemimpin tersebut mampu membawa institusi negara atau kekuasan yang dimiliki sebagai sarana mewujudkan kedaulatan bangsa dan kesejahteraan sosial.

Terkait dengan hal ini, kita sebagai generasi muda Indonesia yang merupakan pilar bangsa, dalam mengembangkan dan meningkatkan peran serta tanggung jawab sebagai kader bangsa dalam mewujudkan negara sejahtera (walfare state). Kepemimpinan kaum muda merupakan jawaban yang harus didorong mulai saat ini. Konsep, paradigma, strategi, serta karakter kepemimpinan kaum muda harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam melakukan formulasi tersebut.

Walaupun di Indonesia ini banyak pemuda namun jika tidak mempunyai daya saing yang tinggi serta berkarakter pemimpin maka tidak akan dapat dibanggakan sebagai pencetus perubahan bangsa. Oleh sebab itu, dibutuhkan pemuda yang memiliki karakter-karakter positif yang mampu membawa perubahan di bidangnya masing-masing. Bukan hanya daya saing tinggi dan karakter pemimpin yang ada pada diri pemuda, tetapi nilai serta manfaat bagi masyarakat juga dibutuhkan karena dengan memiliki jiwa yang peduli pada masyarakat maka pemuda tidak hanya sekedar mengejar kesuksesan diri sendiri semata tetapi juga memikirkan sesama.

Penulis bisa bicara panjang lebar karena penulis pernah dan ingin lagi untuk mengikuti training kepemimpinan dari kampus yang bertajuk PLC (Paramadina Leader Camp). Pelatihan kepemimpinan Mahasiswa Fundamental ini dirancang sedemikian rupa dimana pengajaran teori atau pengetahuan tentang kepemimpinan dilakukan secara classical dan experiental.. Sayangnya training sejenis ini jumlahnya sangat terbatas. Padahal kampus adalah tempat stok pemimpin paling besar. Namun ketika mahasiswa tidak dipersiapkan, ketika keluar tidak ada kewajiban mengabdi yang tertanam di dalam diri.

Memang hasil dari program semacam ini tidak akan langsung dapat kita lihat. Namun, penulis melihat pembangunan karakter pemimpin berbasis kampus inilah yang di masa depan akan mampu membawa bangsa ini ke arah yang lebih baik. Sudah cukup banyak orang pintar di negeri ini (sampai-sampai banyak korupsi). Yang dibutuhkan saat ini bukan hanya pintar tetapi juga kebersihan hati dan niat untuk mengabdi. Kita mahasiswa sebagai generasi muda harus berupaya mengembangkan potensi untuk menjadi pemimpin berbasis pengabdian dengan terus membangun karakter kepemimpinan yang kita miliki.

REFERENSI

Kazhim, Musa dan Hamzah, Alfian.1999. 5 Partai Dalam Timbangan: Analisis dan Prospek. Bandung: Pustaka Hidayah.

Ricklefs, M. C. 1981. Sejarah Indonesia Modern. Diterjemahkan oleh Tim Penerjemah Serambi dari A History of Modern Indonesia. (2008). Jakarta: PT Ikrar Mandiriabadi.

http://ildp.ui.ac.id/?p=591 (diunduh tanggal 28 Oktober 2010, Pukul 20.30)

http://mukhlidah.multiply.com/journal/item/72/PEMBENTUKAN_KARAKTER_PEMUDA_PILIHAN_MENUJU_TERCIPTANYA_PEMIMPIN_IDAMAN_BANGSA_INDONESIA (diunduh tanggal 28 Oktober 2010, Pukul 20.45)

http://www.bloggaul.com/martanto/readblog/100039/krisis-kepemimpinan-di-indonesia (diunduh tanggal 28 Oktober 2010, Pukul 20.55)

http://www.paramadina.ac.id/component/jevents/icalrepeat.detail/2010/07/02/147/56/MzhhZjUzYmIxMjc1MDUwNWRiOTUyYTA2MzU1MjNjNDA=.html (diunduh tanggal 28 Oktober 2010, Pukul 20.50)

http://www.serartan.co.cc/2010/02/karakter-pemimpin-indonesia.html (diunduh tanggal 28 Oktober 2010, Pukul 20.35)

0 komentar:

Post a Comment